Uhuy, Tiga Stasiun Baru Arah Tangerang


duri

Dua kereta arah Tangerang (kiri) dan Arah Manggarai di Stasiun Duri

Rencana pengoperasian tiga stasiun tambahan KRL Commuterline seharusnya pekan ini, namun batak karena ada masalah teknis. Tiga stasiun tersebut adalah Stasiun Grogol, Stasiun Taman Kota, dan Stasiun Tanah Tinggi.

Pembangunan ke tiga stasiun itu merupakan program Kementerian Perhubungan. Sebelumnya, pelayanan jalur KRL ke arah Tangerang atau sebaliknya melewati delapan stasiun, yakni stasiun Duri, Pesing, Bojong Indah, Rawa Buaya, Kalideres, Poris, Batu Ceper dan stasiun Tangerang.

Dengan tambahan tiga stasiun, berarti ada 12 stasiun dari Jakarta ke Tangerang. Jumlah ini tetap paling sedikit di banding rute Stasiun Tanah Abang-Maja dengan 16 stasiun, Tanah Abang-Depok 16 Stasiun, Tanah Abang-Bekasi via Duri 16 Stasiun dan terbanyak Tanah Abang Bogor melewati 20 Stasiun.

Dengan pembangunan tiga stasiun baru Jakarta-Tangerang dipastikan membuat Stasiun Transit seperti Stasiun Duri, Tanah Abang, dan Manggarai semakin ramai.
TIGA STASIUN BARU
* Stasiun Tanah Tinggi antara Stasiun Tangerang dan Batu Ceper.
* Stasiun Taman Kota antara Stasiun Bojong Indah dan Pesing
* Stasiun Grogol antara Stasiun Pesing dan Stasiun Duri.

Ini Jadwal Perjalanan KRL Commuterline Duri-Tangerang

rutetangerang

Commuterline di Malam Hari Raya Nyepi


20130313-003044.jpg

Di loket kereta Stasiun Tanah Abang, Selasa (12/3) malam, masih terpasang tulisan jadwal Commuterline (CL) pukul 21.10 jurusan Bogor. Padahal waktu menunjukkan pukul 21.15.
Ketika petugas loket ditanya apakah jadwal itu bener. Ia buru-buru melihat jam dan membalikkan jadwal baru Commuterline jadi 21.57, itu merupakan jadwal CL terakhir dari Stasiun Tanah Abang. Cara itu seolah-olah CL Bogor 21.10 sudah berangkat.
Saya sih tak terpengaruh karena masih ada kereta jurusan Depok pukul 21.25. Meski jadwalnya tak dipampang, saya yakin CL itu tak dibatalkan. Biasanya pembatalan CL terjadi karena cuaca buruk, seperti hujan deras di Bogor dan sekitarnya. Atau karena ada gangguan parah seperti rel patah, gangguan sinyal dan sebagainya.
Benar saja, CL Depok itu sudah menunggu di jalur 5, sedang jalur 6 CL jurusan Serpong. Nah, CL jurusan Bogor berada di seberang alias jalur 3. Untuk saling berpindah dari dua jalur pertama ke jalur tiga atau sebaliknya harus naik tangga melalui lobi stasiun.
Salah satu teman pulang yang rumahnya Bojonggede terpaksa harus menyebrang lagi ke jalur tiga karena ternyata kereta Bogor yang seharusnya berangkat pukul 21.10 tadi belum berangkat, alias kereta telat.
Ya,.. apa boleh buat, sang teman memilih langsung naik jurusan Bogor supaya tak menunggu lagi jika naik CL Depok. Seperti diketahui, setelah Stasiun Depok, masih ada tiga stasiun sebelum mencapai Bogor. Yakni stasiun Citayam, Bojonggede, dan Cilebut.
“Lebih baik terlambat daripada harus menunggu kereta terakhir,” katanya. Kami pun merelakan ia pindah kereta.
CL Depok akhirnya berangkat duluan tepat pukul 21.25, Cl Bogor yang seharusnya 21.10 melaju di belakangnya. Untunglah malam itu malam liburan Hari Raya Nyepi sehingga kedua Commuterline dalam kondisi longgar. Semua penumpang bisa duduk dengan nyaman. Pemandangan seperti itu sangat langka pada jam kantoran setiap harinya.
Hanya saja CL 1093 yang kami naiki ternyata mengeluarkan suara berisik, seperti ada bagian kereta yang hampir lepas.
Mau tahu suaranya: klontang…klontang…klontang.
Seperti naik mobil omprengan butut yang dipaksakan jalan. Untung AC-nya dingin…

Salah Menilai Ibu Muda


banyak cerita di stasiun kereta (google/thejokosusilo.com)

KARENA lama menunggu kereta rel listrik (KRL) yang tak juga datang, seorang ibu muda jadi pusat perhatian di Stasiun Depok Baru. Ibu tersebut bersama anaknya berusia sekitar tiga tahun.

Wajah ibu tersebut sebenarnya biasa-biasa saja, hanya terlihat bersih dan segar. Komposisi tubuhnya berimbang, tak terlalu gemuk, tidak juga kurus. Ibu muda itu tampak pandai merawat tubuh dan penampilan. Paling kentara pada tampilan perut yang masih cukup kencang.

“Kalau bisa dinilai dengan angka, saya akan beri dia nilai 9,” kata seorang bapak berbaju batik lengan pendek. Lelaki muda di sebelahnya mengangguk-angguk pertanda setuju. “Beruntung sekali yang jadi suaminya ya,” ucap lelaki muda tersebut menerawang.

Seperti penumpang lainnya, ibu muda itu tampak gelisah menanti KRL yang tak juga muncul. Antara pukul 10.30-12.00 KRL dari arah Bogor ke Jakarta memang sudah berkurang jumlahnya. Sebaliknya KRL Jakarta ke arah Bogor datang beruntun. “Mana sih keretanya,” kata si ibu muda itu bergumam.

Kondisi sebaliknya ditampilkan anak si ibu tersebut. Bocah perempuan itu tampak selalu riang. Mulutnya terus bernyanyi, meski lagu-lagu yang didendangkan umumnya lagu orang dewasa yang lagi ngetren seperti lagu Iwak Peyek oleh Trio Macan dan Chaiya-Chaiya (Briptu Norman Kamaru).

Saat seorang pedagang makanan lewat di depannya. Bocah tersebut tiba- tiba merengek minta dibelikan makanan. Ibu tersebut lalu menawarkan permen dari si penjual makanan tadi. Sang anak menggelengkan kepala. Ia tetap minta coklat silver quin yang harganya tentu saja lebih mahal dari permen.

Karena kesal, ibu itu tak jadi membelikan permen dan coklat yang diminta anaknya. Nyanyian merdu yang muncul dari mulut mungil bocah tersebut berubah jadi tangisan. Si ibu muda itu tidak peduli. Bahkan tatkala sang anak tak berhenti juga menangis, dicubitlah pahanya.

Teriakan sang bocah tiga tahun pun seperti terdengar ke berbagai sudut di stasiun tersebut. Sejumlah penumpang tampak terkejut menengoknya. Namun teriakan kesakitan itu hanya sebentar berganti dengan sesenggukan. Tampaknya bocah itu sudah hafal dengan tabiat ibunya. Ia ogah dicubit kedua kalinya jika terus menangis.

Hingga KRL yang dinanti muncul, ibu muda tersebut tetap menjadi pusat perhatian banyak orang di Stasiun Depok Baru. Namun kali ini dengan nilai yang tiba-tiba anjlok, bukan lagi 8 atau 9.

“Wanita bengis, amit…amit…,” ucap bapak berbaju batik tadi.