Presiden Turki Teganya Mau Penjarakan Miss Turki


merve-buyuksarac

Miss Turki 2006: Merve Buyuksarac (Independent)

Mantan Miss Turki Merve Buyuksarac (26 tahun) terancam 4,5 tahun penhara karena dianggap menghina pejabat publik, tepatnya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Miss Univers Turki 2006 yang kini bekerja sebagai desainer dan penulis itu sebenarnya hanya membagi puisi satir, The Master Poem, di akun Instagramnya. Dalam puisi tersebut terdapat sindiran terhadap Presiden Erdogan.

Buyusarac mengatakan bahwa dia tak bermaksud menghina presiden. Ia mengutip puisi itu dari majalah satir Turki, Uykusuz. Buyusarac pun buru- buru menghapus unggahannya s etelah seorang teman memberitahu bahwa dia bisa dituntut atas puisi yang dipublishnya.

Sayang puisi itu sudah dishare oleh beberapa pengikut dari 960.000 follower di instagramnya. Buyuksarac bahkan sempat ditahan karena puisinya. “Saya tidak membuat adaptasi (atas puisi itu). Saya berbagi karena saya merasa lucu, “ucap Buyuksarac dalam pembelaannya.

Kasus yang menimpa Buyuksarac seakan menambah daftar panjang orang- orang yang dipenjarakan Erdogan dalam kasus yang dianggap menghinannya padahal sepele. Publik pun kini cenderung membela Buyuksarac. Sedang presiden yang berkuasa sejak menjadi perdana menteri tahun 2003 itu dianggap presiden yang kian otoriter dan tak kuat menghadapi kritik.

Sebagai catatan, Erdogan yang lahir 26 Februari 1954, menjabat Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003 sampai 28 Agustus 2014. Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai muslim 2 paling berpengaruh di dunia.

Nah terkaiy kasus Buyuksarac, seolah menjadi mengingat Erdogan pernah dipenjarakan selama empat bulan pada akhir 1990-an, juga dalam kasus penghinaan lewat puisi. Saat itu ia menjabat sebagai walikota Istanbul dan membacakan sebuah puisi Islam yang dianggap sebagai hasutan untuk kebencian agama.

Selain semakin otoriter, Erdogan pun dianggap sebagap pimpinan anti media sosial. Tahun lalu ia mengancam akan “menghapus” Twitter setelah menolak untuk menghapus link dianggap ilegal oleh Erdogan.

KASUS-KASUS YANG DIANGGAP MENGHINA PRESIDEN TURKI
* Seorang kartunis koran untuk menggambarkan Tayyip Erdogan sebagai kucing terjerat dalam bola wol digugat ke pengadilan.
* Remaja bernama Mehmet Emin Altunses diadili karena menghina pidato Tayyip Erdogan.
* Empat pemuda ditahan karena menghina Erdogan dalam unjuk rasa jalanan.

Pembunuhan Mahasiswi Bikin Rakyat Turki Marah dan Cemas


aslan

Unjuk rasa menentang pembunuhan mahasiswi Turki (ABCnews)

Turki dilanda protes massal terkait ancaman pemerkosaan dan pembunuhan keji seorang wanita berusia 20 tahun, Ozgecan Aslan. Unjuk rasa besar-besaran antara lain terjadi di ibukota Turki, Istanbul dan Ankara.

Mereka meneriakkan slogan-slogan antara lain bertuliskan; “Anda tidak akan pernah berjalan sendirian”. Ratusan wanita menghadiri pemakaman Aslan di Mersin, lokasi dimana sang mahasiswi itu dibunuh secara keji.

Kemarahan perempuan Turki juga tergambar jelas melalui media sosial. Di jagat twitter hastag #sendeanlat (menceritakan kisah Anda) bahkan menjadi tranding topic, bukan hanya di Turki, tapi dunia. Mereka berharap pemerintah Turki tak mendiamkan kasus itu.

Peristiwa terhadap Aslan terjadi tatkala mahasiswi itu dalam perjalanan pulang dengan sebuah minibus di provinsi pantai selatan-timur Mersin, Sabtu (14/2) waktu setempat. Tiba-tiba seorang pria tak dikenal menyergap Aslan dan hendak memperkosanya. Pria diperkirakan berusia 26 tahun itu marah besar tatkala Aslan menyemprotkan cairan merica ke mukanya sebagai upaya bela diri.

Tak tanggung-tanggung pria tersebut menikam Aslan dan memukulinya sampai mati dengan sebuah batang besi. Bersama seorang kawan, pria itu lalu membakar tubuh sang gadis dan membuangnya ke sungai.

Kabar pembunuhan brutal tersebut langsung menyebar melalui media sosial. Sejak itu, perempuan di seluruh Turki seolah memakai pita hitam dan mengutuk aksi pembunuhan tersebut.

Bukan itu saja, kasus Aslan kemudian membuka berbagai cerita tentang betapa tidak amannya kaum perempuan di negeri itu. Pelecahan seks sering dialami mereka di ruang publik, termausk angkutan umum. Ironinya, pemerintah Turki dianggap kurang tanggap terhadap fenomena tersebut.

Data yang dilansir Turki Bianet, jumlah kekerasan di Turki meningkat. Pada bulan Januari 2015 sebanyak 27 perempuan menjadi korban pembunuhan atau meningkat 31 persen dalam periode yang sama tahun sebelumnya.

Nah, dari data itu, 9 persen perempuan sudah minta perlindungan keamanan terhadap ancaman pembunuhan oleh pasangannya (suami atau kekasih). Data tahun 2014 memang menunjukkan bahwa 56 persen dari 281 perempuan yang terbunuh dilakukan suami atau pasangannya. Adapun korban perkosaan umumnya menimpa perempuan berusia 12-17 tahun.

Adapun peningkatan itu terjadi, diduga karena sistem hukum di Turki dimana Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menerapkan sistempatriarki. Sistem tersebut mengabaikan kekerasan dalam rumah tangga dan mengabaikan kesetaraan gender.

Terhadap kasus Aslan, Presiden Erdogan dan istri menyatakan sudah menyampaikan rasa bela sungkawa. Bahkan dua anaknya telah mengunjungi rumah keluarga korban. “Saya pribadi akan mengikuti kasus ini sehingga pelaku bisa diberikan hukuman terberat,” kata Erodgan dalam pidatonya.